30 personel SAR dari Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpolairud) langsung diterjunkan
SURABAYA — Laut tak selalu tenang. Di utara Sumenep, ia berubah jadi saksi tragedi. Kapal Motor Penumpang (KMP) Mutiara Sentosa II terbakar. Api melahap harapan. Menyisakan kepanikan, juga tanya: siapa selamat, siapa belum ditemukan.
Di saat seperti ini, kecepatan bukan sekadar soal waktu. Ia soal kemanusiaan.
Polda Jawa Timur tidak menunggu lama. Mesin penanganan langsung dinyalakan. Posko demi posko didirikan. Bukan hanya untuk evakuasi, tapi juga untuk menjawab kegelisahan paling mendasar: kepastian identitas korban.
Di Surabaya, pusatnya kini ada di Rumah Sakit Bhayangkara HS. Samsoeri Mertojoso. Di sana, Posko Disaster Victim Identification (DVI) resmi berdiri. Ini bukan sekadar meja administrasi. Ini adalah ruang di mana sains bekerja untuk kemanusiaan.
Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Jules Abraham Abast, menegaskan langkah ini sebagai bagian dari percepatan identifikasi korban meninggal dunia. “Fasilitas ini kami bagi dalam beberapa titik strategis agar seluruh korban dan penyintas tertangani secara terstruktur,” ujarnya, Senin (3/8/2026).
DVI bekerja dengan dua pintu: Antemortem dan Postmortem.
Antemortem (AM) adalah ruang cerita sebelum tragedi. Di sini, keluarga datang membawa kenangan yang berubah menjadi data. Foto terakhir. Riwayat medis. Ciri fisik. Bahkan susunan gigi. Semua dikumpulkan. Semua dicatat. Bahkan DNA keluarga inti pun diambil. Karena dalam kondisi tertentu, hanya itu yang bisa menjawab.
Sementara Postmortem (PM) adalah sisi lain dari realitas. Jenazah yang dievakuasi diperiksa secara forensik. Teliti. Sistematis. Tidak boleh ada kesalahan. Data dari tubuh korban akan dicocokkan dengan data dari keluarga.
Di titik inilah ilmu dan empati bertemu.
Sejak posko dibuka, tim dokter forensik dan ahli DVI bekerja tanpa jeda. Setiap jenazah yang datang dari jalur laut langsung masuk proses identifikasi. Tidak ada yang dianggap angka. Semua diperlakukan sebagai manusia dengan identitas yang harus dikembalikan.
Polda Jatim juga tidak hanya fokus pada yang telah pergi. Yang selamat pun tidak ditinggalkan.
Di Terminal Gapura Surya Nusantara (GSN), Pelabuhan Tanjung Perak, berdiri Posko Informasi Terpadu. Di sana, para penyintas mendapatkan pemeriksaan kesehatan. Bukan hanya fisik, tapi juga psikologis. Trauma tidak selalu terlihat, tapi harus ditangani.
Pendataan ulang manifest juga dilakukan. Ini penting. Karena dalam situasi darurat, data awal sering kali berubah. Ada yang naik tanpa tercatat. Ada yang turun tanpa laporan. Semua harus disisir ulang.
“Posko ini melayani pendataan ulang, pemeriksaan kesehatan, pemulangan, hingga layanan darurat bagi keluarga korban,” terang Kombes Abast.
Di sisi lain Madura, tepatnya di Pelabuhan Kalianget, Sumenep, Polda Jatim juga mendirikan Posko Utama Terpadu. Ini adalah pusat kendali lapangan. Dari sinilah operasi evakuasi dikendalikan. Area pelabuhan disterilisasi. Setiap korban yang tiba disambut dengan prosedur yang sudah disiapkan.
Semua bergerak dalam satu irama: cepat, tepat, dan manusiawi.
Namun, pekerjaan belum selesai. Bahkan baru dimulai.
Polda Jatim mengimbau keluarga yang merasa kehilangan anggota keluarga dalam pelayaran KMP Mutiara Sentosa II untuk segera datang ke Posko DVI di RS Bhayangkara Surabaya. Mereka diminta membawa dokumen penting: KTP, Kartu Keluarga, rekam medis, foto gigi, hingga catatan ciri khusus seperti tato atau bekas luka.
Semakin lengkap data, semakin cepat identifikasi.
Ini bukan sekadar prosedur. Ini adalah upaya mengembalikan nama kepada yang telah pergi. Memberikan kepastian kepada yang ditinggalkan.
Karena dalam setiap tragedi, yang paling menyakitkan bukan hanya kehilangan. Tapi ketidakpastian.
Kombes Abast menegaskan komitmen Polda Jatim bersama tim gabungan. Fokus utama saat ini adalah memastikan seluruh korban, baik yang selamat maupun yang meninggal, mendapatkan penanganan terbaik.
“Kami fokus pada evakuasi dan penanganan kemanusiaan secara cepat dan transparan bagi keluarga,” pungkasnya.
Laut mungkin telah merenggut banyak hal. Tapi di darat, upaya untuk mengembalikan martabat manusia tidak boleh berhenti.
Dan di Surabaya hari ini, itu sedang dilakukan.
Pewarta: tim.red
